Tumbuh dari keluarga “gado-gado”, Mona Ratuliu tanamkan toleransi

Jakarta (ANTARA News) – Toleransi menghargai sudah dihadapi Mona Ratuliu,  yang berasal dari keluarga “gado-gado” alias multikultur, sejak belia.

Ayahnya orang Manado yang besar di Medan, sedangkan ibunya orang Sunda yang tinggal di Makassar. Orangtuanya pindah ke Jakarta, tempat di mana Mona lahir dan tumbuh dewasa.

Kontras antara keluarga besar ayah dan ibunya membuat Mona belajar soal toleransi. 

Baca juga: Pola asuh anak ala Mona Ratuliu

“Keluarga ayah kalau ngomong suaranya keras, tegas, blak-blakan. Keluarga ibu lemah lembut dan mikir bagaimana menyampaikan (sesuatu) biar enak,” tutur Mona di acara Kampanye “Mari Bicara, Indonesia!” SariWangi, Jakarta, Selasa.

Sejak kecil, dia belajar membangun toleransi lewat suasana multikultur dalam keluarga.

Setelah memiliki keluarga sendiri, istri Indra Brasco itu juga ingin menanamkan hal serupa untuk tiga anaknya.

Baca juga: Alasan Mona Ratuliu batasi uang jajan anak

“Salah satu kekhawatiran (orangtua), bagaimana anak bergaul dengan baik, dengan teman di sekolah, yang pasti multikultural,” ujar dia.

Mona menemukan solusinya, lewat contoh yang dilakukan dari dirinya sendiri. Tak hanya menerapkan toleransi kepada sesama orang dewasa, tetapi juga pada anak-anaknya. 

“Bagaimana kita juga menghargai anak, harapannya mereka juga menghargai orang lain,” kata dia.

Baca juga: Mona Ratuliu bersyukur jadi tempat curhat anak

Pewarta: Nanien Yuniar
Editor: Ida Nurcahyani
COPYRIGHT © ANTARA 2019